Peradaban Ibadah

Written by Syarif Hidayat Santoso – Pestudi Islam Kontemporer, Alumni Hubungan Internasional Universitas Jember

Dalam Nabi dari Lebanon, Kahlil Gibran bercerita tentang tiga orang yang memiliki karakter berbeda. Sulaiman Affandi yang pemalas dan parlente, namun bisa kaya raya dengan mengawini janda kaya, Fatimah Betros. Farid Bey yang angkuh dan hobi bercerita tentang kehebatan nenek moyangnya dan Adib Affandi, seorang pemikir teologi, filosof, penyair, ahli retorika dan spiritualis namun diacuhkan masyarakat. Masyarakat Adib Affandi adalah masyarakat yang tak perduli terhadap seni dan ilmu pengetahuan. Hanya seorang bishop yang mendoakan Adib dengan doa yang anggun ” Anakku, engkau sungguh cerdas, suatu saat nanti di suatu masa, engkau akan menjadi orang besar dari timur”.

Gibran sebenarnya bukan sedang bercerita. Lebih tepatnya ia menyindir tipe-tipe manusia timur dalam peradaban kontemporer. Karena Gibran seorang Arab, bolehlah kita katakan bahwa jiwa kontekstual yang dikritik secara samar oleh Gibran adalah dunia Arab pada khususnya dan umat Islam pada umumnya. Meskipun Gibran seorang Kristen, tapi kontekstualitas Islamisme Lebanon dan Arab telah membentuk intisari dari karya-karyanya.

Sejujurnya, umat Islam memiliki karakter seperti tiga tokoh yang ditulis Gibran. Karakter Sulaiman Affandi adalah karakter umat Islam yang tidak percaya diri dan lebih suka mengambil khazanah peradaban dari barat yang kaya. Muslim yang berkarakter seperti Sulaiman Affandi pada dasarnya adalah muslim yang sedikit kerja kerasnya untuk mencapai tamaddun tertinggi. Muslim seperti ini lebih suka membangun citra dirinya yang flamboyan diatas mentalitas nervouistis-imitatif.

Karakter Farid Bey adalah karakter yang berorientasi masa lalu. Karakter ini secara sadar dapat kita temui dimana-mana. Bangga terhadap kejayaan Islam masa lalu, namun tak kreatif untuk menghijrahkannya di masa kini. Betapa banyak kaum muslim begitu heroik ketika menceritakan tamaddun mercusuarnya dahulu, tapi minim kerja keras keilmuan masa kini. Mentalitas seperti ini tak baik, karena sebagaimana disitir Gibran, mentalitas ini melahirkan keangkuhan peradaban. Angkuh selalu berarti negatif, karena pasti melahirkan kepribadian monolog semata dan tak pernah dialogis.

Adapun Adib Affandi mungkin mendekati karakter ideal yang dibutuhkan untuk mensejarahkan dunia timur. Adib mempelajari filsafat kuno dan barat modern, tapi juga syair timur metafisik Abu Nuwas. Adib juga berbicara tentang Voltaire sefasih ia mengutip Amin Al Jundi. Adib bahagia di tengah kegersangan ilmu masyarakat yang mengklaim dirinya beradab. Adib tak pernah putus asa untuk menciptakan sejarah, karena dalam pikiran Adib, kekuatan sejati sejarah ada di masa depan.

Sayang, sedikit muslim yang mengapresiasi karakter seperti Adib Affandi. Ibadah yang kita lakukanpun juga tak pernah mereferensi jiwa anggun Adib Affandi. Padahal, tak pernah ada ritual dalam Islam yang tidak menciptakan kepribadian pahlawan dalam peradaban. Sekecil apapun ibadah Islam tak selalu berarti memanjat kedalam nalar ilahiyah tapi juga ardhiyah, pembumian hakiki.

Ramadan adalah ruang kosmologis luar biasa dimana setiap bentuk ibadah di dalamnya selalu menghadirkan dua wajah yang multitafsir. Menurut Seyyed Hossein Nasr (1981), dalam Islam selalu hidup apa yang namanya aksiden dan substansi, bentuk (form) dan esensi, esoteris dan eksoteris serta lahir dan batin. Menahan lapar dan dahaga adalah aksiden, tapi menahan nafsu adalah substansi. Iktikaf adalah bentuk (form) tapi menemukan pesona Tuhan yang kontemplatif dalam diri individu adalah esensi. Tarawih adalah eksoteris, tapi kebersamaan dan silaturrahmi adalah esoteris.

Begitupun dengan zakat. Menyantuni fakir miskin adalah bentuk, tapi menyucikan harta adalah esensi. Tadarus adalah aksiden, tapi membumikan Quran adalah substansi. Inilah dahsyatnya ramadan. Seandainya kombinasi bentuk-bentuk hidup ibadah itu direferensi olah kaum muslim, betapa besar power yang akan lahir dalam peradaban kita.

Lothrop Stoddart menjelaskan bahwa salah satu inti keberhasilan Islam masa lalu adalah the nature of Muhammad’s teaching, kedahsyatan inti ajaran Islam. Meskipun tak dapat dilepaskan faktor lain seperti watak alami bangsa Arab serta kondisi politik kontemporer Timur Tengah menjelang lahir dan berkembangnya Islam. Kedahsyatan Islam telah membantu watak alami bangsa Arab untuk kelahiran tamaddun baru yang cemerlang.

Kesempatan untuk membangun peradaban masa kini justru terbuka lebar. Mulai menurunnya imperium internasional seperti Amerika adalah kesempatan untuk lahirnya peradaban alternatif Islam. Kita hanya perlu memformulasikan ramadan kedalam ibadah yang mampu membangun tamaddun besar di masa depan. Caranya mudah. Kita hanya perlu mengembangkan secara dinamis dua wajah ramadan mulai dari dimensi lahir-batin, eksoteris-esoteris, aksiden-subtansi, bentuk-esensi. Maka kita akan mempunyai sebuah peradaban ibadah atau ibadah yang berperadaban. Tuhan akan mengamini doanya Adib Affandi, tentu saja di masa depan.

 

Tinggalkan Balasan