Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik: Pengertian


Written by Deden Yoga Dwi Cahya – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Teori Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai “organ” yang bekerja demi berfungsinya seluruh “badan” secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan “upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif. Selain itu, Parson memperkenalkan 2 macam mekanisme yang dapat mengintergrasikan sistem-sistem personal ke dalam sistem sosial, yaitu mekanisme sosialisasi dan mekanisme kontrol sosial. Melalui operasi kedua mekanisme ini, sistem personal akan menjadi terstruktur dan secara harmonis terlihat di dalam struktur sistem sosial.

Di dalam pengertiannya yang secara abstrak mekanisme sosial dipandang sebagai cara dimana pola-pola kultural, seperti nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, bahasa serta simbol-simbol lain diinternalisasikan ke dalam sistem persona. Mekanisme kontrol sosial melibatkan cara-cara di mana tindakan-tindakan sosial diorganisasikan di dalam sistem sosial untuk mengurangi ketegangan dan penyimpangan. Ada beberapa mekanisme spesifik dari kontrol sosial, antara lain: a) institusionalisasi, yang membuat pengharapan-pengharapan di dalam masyarakat menjadi jelas dan terkontrol, b) adanya sanksi, dimana anggota masyarakat terikat di dalamnya, c) aktivitas-aktivitas keagamaan, dimana ketegangan dan penyimpangan dapat diredam dan dikurangi, d) struktur kutub pengamanan, dimana kecenderungan-kecenderungan penyimpangan dapat di arahkan ke kondisi normal kembali, e) struktur-struktur reintegrasi, dan f) sistem yang memiliki kemampuan dalam menggunakan kekuasaan dan tekanan.

Teori Konflik

Berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

Teori yang dikemukakan oleh Dahrendorf ini terkenal sebagai teori konflik dialektika. Dahrendorf dengan tekun dan ulet menyanggah pandangan-pandangan Parsons, dan teori fungsional struktural secara keseluruhan.

Pada tahun 1958, Dahrendorf sudah menyatakan bahwa pandangan-pandangan Parsonian ataupun teori fungsional struktural sebagai suatu utopis. Menurut Dahrendorf, teori tersebut menawarkan suatu gambaran masyarakat yang konsensual, integral dan statis. Sementara masyarakat seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang memiliki dua wajah, yaitu yang bersifat konsensual dan konflik. Untuk melepaskan diri dari kungkungan utopia itu, Dahrendorf memerlukan suatu model teori konflik sebagai substansi model teori fungsional struktural. Model yang lahir dari sudut pandang ini disebut sebagai perspektif konflik dialektika dan dianggap lebih sesuai dengan apa yang berlaku di dunia dibanding teori fungsional struktural.

Bagi Dahrendorf, pelembagaan di dalam masyarakat melibatkan pembentukan apa yang disebut sebagai asosiasi terkordinasi secara imperatif (imperatively coordinated associations) atau disingkat dengan ICA yang mewakili organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. Organisasi-organisasi ini di bentuk oleh hubungan kekuasaan antar beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada di dalam masyarakat. sementara kekuasaan menunjukkan adanya faktor paksaan oleh suatu kelompok ke atas kelompok dimana hubungan kekuasaan di dalam ICA cenderung terjadi terlegitimasi. Dalam hal ini beberapa kedudukan mempunyai hak normatif yang diakui begitu saja untuk mendominasi yang lainnya.

Pada saat yang bersamaan, kekuasaan dan otoritas merupakan sumber yang langka, dimana setiap subkelompok dalam masyarakat dengan ICA mereka berkompetisi untuk mendapatkannya. Jadi dapat dilihat disini bahwa kekuasaan dan otoritas merupakan sumber konflik yang primer dalam masyarakat. konflik ini pada akhirnya adalah refleksi dari kelompok pemeran di dalam ICA memperebutkan otoritas.

Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :

  • Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
  • Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
  • Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
  • Koonflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
  • Konflik antar atau tidak antar agama
  • Konflik antar politik

Selain itu, Dahrendorf menganggap institusionalisasi sebagai suatu proses dialektis. Hubungan kausal yang dianggap penting untuk dianalisis adalah:

1)      Konflik merupakan suatu proses yang pasti terjadi dan diakibatkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan dalam pengaturan sosial yang bersifat struktural.

2)      Konflik tersebut dipercepat atau diperlambat oleh adanya sekumpulan kondisi struktural atau variabel yang bersifat mempengaruhi.

3)      Penyelesaian konflik pada saat tertentu menciptakan suatu situasi yang bersifat struktural yang dalam keadaan tertentu mengakibatkan konflik antar kekuatan yang saling bertentangan.

Pandangan Marx menyatakan bahwa sumber konflik adalah nilai-nilai kultural dan peraturan kelembagaan yang mewakili kepentingan dan diciptakan oleh penguasa. Sedangkan Dahrendorf menganggap bahwa sumber konflik adalah hubungan kewenangan yang telah melembaga dalam berbagai ICA. Menurut Marx, hubungan kewenangan adalah superstruktur yang diciptakan oleh kelas penguasa dalam jangka panjang akan diruntuhkan oleh adanya dinamika konflik.

Kesimpulan

Menurut teori Struktural Fungsional jika di hubungkan dengan Indonesia, bangsa Indonesia adalah suatu sistem sosial besar yang terbentuk karena adanya konsensus nilai-nilai yang disepakati oleh seluruh komponen sistem. Meskipun komponen-komponen yang membentuk sistem sosial tersebut mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, mereka telah membangun struktur ketergantungan satu sama lain. Akibat adanya saling ketergantungan itulah terbentuk keseimbangan yang membuat bertahannya sistem kebangsaan Indonesia.

Sedangkan menurut teori Konflik jika di hubungkan dengan Indonesia, negara kita akhir-akhir ini tengah diuji dengan berbagai kerusuhan yang memuncak dengan keinginan sebagian wilayah untuk lepas dari NKRI. Munculnya polarisasi daerah yang cenderung menguat tersebut dipicu oleh adanya perbedaan kepentingan yang saling bertentangan antara mereka yang menguasai dan yang dikuasai. Kepentingan daerah yang seringkali tidak terpenuhi melahirkan perasaan tidak diperlakukan secara adil.[]

 

2 Balasan pada “Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik: Pengertian”

  1. Pingback: Mas Moko

Tinggalkan Balasan