Krisis Sudan: Konflik Etnis yang Diboncengi Kepentingan Asing

Written by Triono Akhmad Munib dkk – Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

Underlying Factor

Awalnya konflik di Darfur merupakan konflik etnis dengan lingkup internal saja. Konflik tersebut bermula dari ketidakadilan perlakuan pemerintahan Sudan terhadap penduduk Selatan. Seperti yang diketahui wilayah Utara Sudan adalah mayoritas berpenduduk Islam sedangkan wilayah Selatan mayoritas berpenduduk Kristen. Konflik tersebut semakin panas dengan dipicu pula oleh perbedaan ras, di mana wilayah Utara adalah ras Arab dan wilayah selatan adalah ras Afrika (Negro).

Namun konflik Sudan tersebut saat ini sudah berubah arah dari dasar latar belakang munculnya konfik tersebut. Itu dikarenakan adanya intervensi asing yang ikut berkecimpung di dalam konflik tersebut. Seperti yang diketahui di wilayah Sudan Selatan terdapat sumber daya alam berupa minyak, gas, dan uranium. Inilah yang membuat pihak asing, khususnya Negara-negara Barat (AS dan Inggris) dan China ikut campur tangan dalam konflik Sudan tersebut. Pihak asing tersebutlah yang membuat konflik etnis tersebut tak kunjung usai. Di sini, terjadi keadaan di mana etnis dijadikan sebuah instrument untuk mencapai kepentingan asing. Boleh dikatakan konflik Sudan adalah konflik etnis yang dipolitisi atau konflik etnis yang diboncengi kepentingan asing.

Darfur merupakan kawasan yang kaya sumber minyak, uranium dan gas. Persoalan minyaklah yang menyebabkan AS dan Inggris sangat keras dan ikut campur terhadap Sudan[1]. Negara-negara Barat mengetahui kekayaan minyak yang ada di Barat dan Selatan Sudan. Di wilayah Barat Sudan ditemukan uranium selain gas dan emas. Darfur telah memberikan pendapatan sebesar 4 miliar dolar AS kepada pemerintah Sudan, lebih dari setengah pendapatan total negara itu. Pemerintah Sudan juga sudah membuka hubungan erat dengan China. Sudan mensuplai hampir 10 persen impor minyak China. Sementara itu, AS memiliki kepentingan minyak di Chad, tetangga Sudan. Kakayaan minyak Darfur tentu saja menjadi pendorong besar bagi negara-negara haus minyak untuk menguasai daerah itu, sehingga konflik di Darfur sebenarnya dipicu persaingan antara AS, Eropa dan China untuk memperebutkan minyak Darfur. Tuduhan pelanggaran HAM terhadap Sudan, menurut sepertinya sengaja dilakukan untuk menutupi persaingan China dan Amerika merebut minyak Sudan.

Konflik Sudan saat ini sudah berubah arah menjadi konflik politik yang menyeramkan. Lebih dari 180.000-300.000 orang telah tewas, dan sekitar 2,5 juta penduduk terpaksa meninggalkan rumahnya sejak terjadi pemberontakan kelompok bersenjata, Februari 2003. Gangguan keamanan ini menyebabkan pemerintahan di Sudan tidak berjalan stabil. Tak heran jika PBB menobatkan Sudan merupakan konflik terparah di dunia.

Foreign Interest in Sudan

Konflik etnis yang terjadi di Darfur, Sudan sudah mengalami perubahan arah dari penyebab konflik utama, yaitu ketidakadilan perlakuan pemerintah Utara terhadap etnis negro dan umat Kristen di wilayah Selatan. Di sini, konflik tersebut sudah mengalami proses politisasi oleh pihak-pihak asing yang berkepentingan. Bisa dikatakan “Sudan is war by proxy”. Maksudnya, konflik Sudan saat ini tidak bisa dipandang semata-mata hanyak murni konflik internal antara pemerintah dan rakyatnya melainkan sudah terdapat campur tangan pihak asing yang menjadi proxy baik yang membantu pemberontak di Darfur maupun yang pro-pemerintah. Secara geografis Sudan memang daerah yang kaya akan cadangan minyak, gas dan uranium. Potensi-potensi Sudan antara lain[2] :

  1. Sudan adalah negara yang terluas di benua Afrika dan wilayah tersubur di kawasan negara Arab. Hal ini memungkinkan adanya pemberdayaan sumber daya alam yang lebih dibanding negara-negara lainnya
  2. Negara Sudan yang saat ini dianggap miskin dan terbelakang, ternyata menyimpan kekayaan alam yang melimpah, seperti adanya kandungan minyak di bagian selatan dan kandungan uranium di bagian barat. Kekayaan yang dapat membawa Sudan menjadi negara kaya dan potensial. Sudan juga masih menyimpan cadangan minyak bumi sebanyak 631,5 juta barel dan 99,11 milyar meter kubik gas alam yang belum tereksploitasi, serta cadangan biji besi dan tembaga dalam jumlah yang tidak terlalu besar. Saat ini, produksi minyak mentahnya sekitar 500.000 barel per hari.
  3. Sudan berada di posisi strategis lalu lintas perairan Laut Merah. Sebuah posisi yang menguntungkan untuk menguasai perikanan hingga ke jantung Afrika.
  4. Sudan adalah penguasa sungai Nil kedua setelah Mesir. Sudan sebenarnya adalah negara subur dengan dua aliran anak sungai Nil yang memberi berkah pertanian yang menjadi pilar utama perekonomian negara.

Dari potensi-potensi di ataslah yang membuat Negara-negara yang berkepentingan, khusunya Negara Barat (AS dan Inggris) dan China ikut turut mempolitisir konflik tersebut. Di sini, persoalan minyaklah yang menyebabkan AS dan Inggris sangat keras dan ikut campur terhadap Sudan[3]. Realitas di Darfur hakikatnya adalah pertarungan pengaruh antara Eropa dan AS di kawasan itu. Masalah itu awalnya adalah pergolakan biasa antara tuan tanah dan petani penggarap. Hal itu telah berlangsung selama puluhan tahun. Masalah itu juga merupakan warisan imperialis. Dengan pandangan bahwa seandainya kekayaan Darfur dikelola dengan baik, maka tidak akan muncul masalah itu. Sebab, Darfur memiliki kekayaan, memiliki air, tanah, dan kekayaan lainnya yang mencukupi untuk membiayai seluruh Afrika dan bukan hanya Darfur saja. Akan tetapi, pengelolaan yang buruk oleh penguasa sejak masa penjajahan sampai sekarang menyebabkan terjadinya masalah dan perpecahan antara pemilik tanah dan penggarap.

The Effect of Sudan Conflict for Regional and International Security

Konflik etnis di Sudan telah membuat efek tetesan (trickle down effect) ke Negara-negara sekitar Sudan Krisis Sudan telah mempengaruhi keamanan wilayah tetangganya, baik langsung maupun tak langsung. Saat konflik berlangsung, gerakan para pemberontak juga mengancam keamanan daerah perbatasan seperti Kenya, Mesir, Ethiopia, Uganda, Chad dan Libya serta menjadikan daerah-daerah itu rawan serangan teroris dan perdagangan senjata ilegal. Selain menimbulkan masalah keamanan, pengungsi Sudan juga memunculkan masalah baru bagi negara yang menjadi kamp pengungsian sementara, lebih dari 2 juta orang telah menempati kamp pengungsian di wilayah Chad . Jumlah itu belum termasuk pengungsi yang tersebar di daerah lain. Bagi dunia internasional, konflik Sudan merupakan ancaman penurunan cadangan minyak dunia mengingat wilayahnya yang diperkirakan mengandung 600 juta-1 miliar barrel cadangan minyak mentah[4].

The Ending of the Sudan Conflict

Konflik yang berlangsung selama tujuh tahun (2003-2010) akhirnya bisa diselesaikan. Menurut Presiden Sudan, Omar al-Beshir bahwa 57 anggota kelompok pemberontak utama, 50 diantaranya berada dalam daftar hukuman mati, telah dibebaskan. Di ibukota negara bagian Darfur Utara, pemerintah Sudan dan pemberontak Gerakan Keadilan dan Persamaan Hak (JEM) menandatangani perjanjian gencatan senjata dan sepakat bekerja untuk mencapai sebuah perjanjian perdamaian penuh[5].

Conclusion

Seperti dengan apa yang dibahas di atas, kami selaku penulis menyimpulkan bahwa :

  1. Konflik di Darfur, Sudan tidak bisa hanya dipandang sebagai konflik yang murni internal, yaitu perang antara pemerintah dan rakyatnya;
  2. Intervensi asing membuat perubahan arah konflik menjadi konflik yang terpolitisasi;
  3. Alasan pertama dan yang paling utama ikutnya pihak asing dalam konflik Sudan adalah lagi-lagi masalah ekonomi, yaitu ingin menguasasi sumber daya minyak, gas, dan uranium;
  4. Walaupun menurut Presiden Sudan, Omar al-Beshir menyatakan bahwa pemerintah Sudan telah menandatangi kesepakatan dengan The Justice and Equality Movement (JEM), kami sebagai penulis memandang bahwa konflik etnis tersebut masih bisa terjadi lagi jika pemerintah melanggar poin dari kesepakatan tersebut;
  5. Wilayah Darfur masih mejadi momok bahaya laten.

 


[1]Harian The Guardian Edisi 18 Juli 2008

[2] www.sinaimesir.com/cetak.php?id=184

[3] Harian The Guardian Edisi 18 Juli 2008

 

Tinggalkan Balasan